23 Feb 2009 @ 9:19 

Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengijinkan penulis untuk ngeblog lagi.

Fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang bisa penulis ilustrasikan seperti sebuah pohon yang dipenuhi atau tersusun atas akar, ranting, batang, buah, dan bagian-bagian lainnya.
Kondisi pohon sudah mulai tua, akar mulai lemah dalam menyerap sari-sari mineral dai dalam tanah. Berangsur-angsur suplai mineral, vitamin, dan sari2 lainnya mulai melemah. Batang mulai keropos, ranting-ranting lemah, dan daun-daunan yang tadinya hijau indah menjadi agak kekuningan, dan lama-lama membusuk dan jatuh ke tanah.

Ah… itu mah akal pikir saya yang lemah ini.

Baiklah, berikutnya dengan mengetahui kondisi pohon dan bagian-bagiannya tersebut, ada 3 solusi yang bisa jadi dilakukan oleh manusia untuk memperbaikinya:

1. Perbaikan instan

Orang seperti ini mempunyai risau yang kuat untuk memperbaiki pohon, cuma dia tidak mau susah payah. Tidak sabar dan berharap agar pohon bisa diperbaiki dengan cepat alias instan. Maka, ketika dia melihat daun-daunan yang mulai kuning segeralah dia mengecat daun itu dengan cat warna hijau biar kelihatan segar. Ketika ranting-ranting dan batang mulai lemah, maka segera diikat dengan kuat dengan menggunakan tali rafia atau kawat.

Pohon secara sekilas kelihatan membaik, namun dalam waktu lama atau jangka panjang pohon itu akan hancur dan binasa.

2. Hancurkan yang rusak

orang kedua ini mirip dengan orang pertama, yaitu risau yang kuat utuk memperbaiki pohon namun kurang sabar. Sehingga orang ini bertindak secara tegas dan keras. Setiap melihat daun-daunan yang mulai kuning, langsung dipotong. Ranting-ranting dan batang yang mulai lemah dipatahkan saja, selain dapat mengganggu keindahan pohon, orang ini juga takut bahwa kerusakan yang ada dapat menyebabkan kerusakan vital pada pohon secara keseluruhan.

Sehingga, lama-lama tanpa ada pemeliharaan, setiap bagian pohon akan mengalami penurunan, dan dihancurkan saja semuanya. Terjadikah perbaikan? Bukan, penghancuranlah yang ada.

3. Perbaiki perlahan-lahan tapi konsisten

Orang ketiga ini paham akan terjadinya kemunduran pada pohon. Namun dia ingin memperbaiki pohon ini tanpa ada keinginan merusak, seperti yang disebabkan oleh tingkah laku orang pertama dan kedua. Maka orang ini mulai menyirami tanaman dengan air, memberikan pupuk, merawat dengan sabar. Meskipun masih terlihat banyak sekali kekurangan, cacat atau kerusakan yang mulai melanda pohon, namun dia berharap jangka panjang pohon ini akan membaik dan menurunkan pohon-pohon lain yang lebih baik.

>>

Kondisi ummat atau masyarakat sekarang mulai menjauh atau lemah dibandingkan dengan kondisi masyarakat terbaik pada zaman Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya R.Hum.

  1. Kondisi iman yang lemah, yakin kepada makhluk lebih besar ketimbang yakin kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sifat-sifat Nya. Lebih yakin kepada kebahagiaan di dunia yang sementara ini ketimbang keinginan untuk bahagia di akherat (surga) nanti. Lebih yakin terhadap benda-benda dunia (harta, kedudukan, gelar, dll) dalam menyelesaikan masalah sehari-hari ketimbang menyelesaikan masalah melalui ‘amal sholih yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti yang dicontohkan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam.
    Bahkan amaliah (aktivitas) sehari-hari lebih banyak meniru orang-orang bukan daripada meniru baginda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam.
  2. ‘Amal sholih yang paling utama, yaitu sholat, mulai ditinggalkan (dilalaikan).
  3. Keengganan atau malas menuntut ‘ilmu agama, sehingga aktivitas sehari-hari lebih banyak dituntun oleh ilmu-ilmu dunia semata. Dan ada pula orang yang mempunyai ilmu tinggi, justru semakin sombong, akhlak buruk, merasa yang paling benar, ilmunya digunakan untuk menipu rakyat, dan lain sebagainya. Disebabkan lemahnya dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  4. Akhlak yang kurang terpuji mulai bermunculan. Dalam bergaul sudah tidak lagi ada adab sopan santun, baik itu ke ulama, orang yang lebih tua atau lebih muda. Malu mengucapkan salam sesama ummat Islam. Muka yang jarang tersenyum. Padahal senyumnya ummat Islam di depan ummat Islam yang lain akan Allah ta’ala anggap sebagai sedekah. Subhanallaah.
  5. Ketika beramal, dikotori dengan niat-niat jelek selain mengharap ridho dari Allah ta’ala. Ketika dalam beramal sholih ada manusia yang lihat atau dukungan, maka bersemangat. Sedangkan sebaliknya, malas-malasan.
  6. Ummat Islam kurang sungguh-sungguh dan berkorban dalam memperbaiki iman dan amal sholihnya. Sedangkan untuk menuntut ilmu dunia, bekerja mencari nafkah, begitu susah payahnya, sampai meninggalkan anak, istri/suami, korban harta, korban diri, untuk sesuatu yang akan ditinggalkan ketika mati. Sedangkan untuk yang kekal, iman dan amal sholih… Allahu Akbar, sangat kurang sekali. Termasuk penulis sendiri, namun penulis niat sungguh-sungguh insya Allah.

Dengan kondisi semacam ini, sebagaimana penulis sebutkan mirip orang pertama, yaitu ingin melihat kondisi ummat Islam dan sistem yang berjalan segera baik, sesuai dengan tuntunan syariah, namun tidak mau berkorban. Ketika usaha perbaikan ada sokongan atau dukungan, baik itu dana, tenaga, dll, maka sangat semangat sekali. Namun, ketika tidak ada sokongan, malas untuk mengorbankan harta, diri, dan waktunya sendiri. Maka orang-orang seperti ini bercita-cita tinggi, melakukan perbaikan di segala bidang, tapi lupa memperbaiki iman ummat Islam sebagai pondasi utama. Dampaknya, hanya angan-angan saja yang ada, implementasi susah sekali.

Untuk tipe orang kedua, ketika melihat adakejahilan dan kerusakan di tengah masyarakat, maka dia langsung seolah-olah ingin menghilangkan orang tersebut dari muka bumi, biar Islam tidak tercemar. Ketika melihat ada orang Islam sedang bermaksiat, maka inginnya langsung “membasmi” dia saja. Padahal orang yang bermaksiat tersebut belum sekalipun diajak kepada kebaikan, belum sekalipun ditawarkan apa keutamaan amal sholih, orang bertaubat…

Bahkan Allah ta’ala dalam Al-Qur’an Nya yang mulia dan hadits-hadits Nabi, lebih mengutamakan berita-berita gembira kepada ummat daripada ancaman-ancaman. Tanpa perlu menghilangkan ancaman-ancaman tersebut.

Coba saja, anak kecil yang baru belajar sekolah, ketika dia sedang malas belajar, Anda tawari dengan keuntungan dan keutamaan apabila dia rajin belajar, tentu anak kecil tersebut akan semangat lagi dalam belajar. Tapi coba, kalau anak kecil tersebut langsung Anda ancam, bahkan Anda pukul, tanpa adanya kabar gembira dulu, anak kecil ini akan lebih malas belajar, jangka panjangnya akan lebih buruk lagi.

Nah, orang ketiga ini, mari kita sama-sama berkeinginan memperbaiki iman dan amal sholih kita, dan timbulkan kerisauan untuk mengajak ummat ikut sama memperbaiki iman dan amal sholihnya. Secara bertahap dan perlahan, namun istiqomah / konsisten, insya Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan tunjukkan hasilnya pada kita. Kalaulah tidak nampak di dunia, yakinlah Allah ta’ala akan tampakkan di akherat kelak.

So, ayo belajar sama-sama nambah risau dan korban untuk memperbaiki iman dan amal sholih kita. Tambah korban harta, waktu, dan diri untuk mengusahakan bekal di akherat, jangan melulu untuk bekal dunia saja.

🙂 Piss.

Tulisan disusun ulang berdasarkan:

http://galih-hermawan.blogspot.com/2008/04/perbaiki-akar-ranting-batang-dan-buah.html

Posted By: Galih Hermawan
Last Edit: 23 Feb 2009 @ 09:34

EmailPermalink
Tags
Tags: ,
Categories: Hikmah dan Kisah, Islam


 

Responses to this post » (None)

 
Post a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 46
  • Comments » 313
Change Theme...
  • VoidVoid
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater « Default
  • FireFire
  • LightLight

Ijtima’ Indonesia 2009



    No Child Pages.

Keamanan Informasi Lanjut



    No Child Pages.

About



    No Child Pages.