21 Feb 2009 @ 8:19 

‘Alim ulama kita menerangkan bahwa setiap amal yang kita lakukan sebaiknya berpedoman pada amal yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Paling tidak kita belajar meniru orang-orang sholih zaman dahulu.

Amal akan sempurna ketika berlandaskan ilmu. Sedangkan ilmu akan sempurna ketika berlandaskan iman yang sempurna pada Allah SWT.
Sehingga semakin tinggi iman seseorang, maka akan semakin ada rasa tholab atau ingin terus belajar terhadap ilmu.
Semakin risau dengan amal-amalnya, baik yang sudah atau sedang dilakukan maupun yang belum diketahui.
Semakin wujud sifat harap dan takut terhadap Allah SWT, tentunya juga akan dampak pada semakin tingginya akhlak orang tersebut pada setiap orang.

Alkisah ada seorang muslim yang selama hidupnya belum pernah menjalankan amalan2 agama secara sempurna.
Setelah dewasa dan berkeluarga disertai dengan anak2nya yang lucu, Allah SWT telah memberikannya hidayah untuk mengenal dan mengamalkan Islam secara lebih sempurna.

Maka orang tersebut sangat semangat sekali untuk mengetahui lebih lanjut ttg perintah2 dan larangan2 dari Allah SWT.
Itulah memang bukti dari ketinggian iman, maka akan semakin haus dengan ilmu.
Semakin kurang iman, maka semakin malas menuntut ilmu, semakin tidak sempurna amal-amalnya.

Si pria muslim inipun akhirnya menambah porsi waktunya buat belajar agama. Disebabkan seringnya mendengar perkataan2 atau berita2 akherat, maka si pria inipun akhirnya bertambah risau dengan apa yang saat ini terjaid di keluarganya.
Anak dan istrinya belum begitu mengamalkan agama Islam secara sempurna, dia berfikir, “Apa yang harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT nanti!”.

Maka selain dia belajar ilmu massa’il atau fikih, yaitu bab tata cara beribadah, dengan mendatangi majelis2 atau pengajian2 yang dipimpin seorang ulama, dia juga ingin mengadakan taklim di rumahnya yang lebih berkenaan dengan bab keutamaan2 beramal. Taklim di sini adalah saling belajar terhadap ilmu agama. Salah satu orang membaca kitab agama yang ditulis ulama dan yang lain mendenagrkan.

Si pria ini dengan semangat tinggi ingin menerapkan anjuran ulama agar di rumahnya dihidupkan amalan taklim bersama keluarganya.
Memang kehendak Allah SWT, ketika dia berusaha merayu istri dan anak2nya untuk buat taklim, dia malah diacuhkan.
Saat itu kondisi istri dan anak2nya memang masih lebih banyak porsi waktunya untuk kegiatan selain agama, jadi maklum kalau karena belum tahu terhadap pentingnya taklim ini, mereka masih ada rasa menolak.

Subhanallah, pria ini tidak putus asa, meski keluarganya belum siap. Hari demi hari dia membaca kitab atau buku agama ini sendirian di ruang tamu. Ekstrimnya, istrinya malah membawa TV (televisi) yang ada di ruang tamu, masuk ke dalam kamar. Mungkin supaya tidak terganggu oleh taklim yang dilakukan suaminya.
Suara TV disetel keras2 sampai si suami ini merasa agak terganggu, tapi dia tetap teguh.

Waktu demi waktu semakin berjalan, atas kehendak Allah SWT, si istri waktu itu ada keperluan ke dapur. Si istri ini terpaksa harus melewati ruang tamu tempat suaminya sedang taklim yang dibaca agak keras. Otomatis istrinya mendengarkan apa yang dibaca oleh sang suami. Meski sambil lalu, kejadian ini acap kali berulang.

Lama kelamaan keutamaan2 beramal yang dibaca suaminya ada yang teringat satu buah. Karena rasa tertariknya, hari demi hari si istri dengan sengaja pergi ke dapur pada saat suaminya taklim. Yang tadinya memang ada benar2 keperluan di dapur, sekarang meski tidak ada keperluan, dia tetap berusaha bagaimana supaya dia menuju ke dapur dan melewati suaminya yang sedang taklim.
Bahkan si istri sering sengaja membuatkan minuman buat suaminya, sambil2 mendengarkan apa yang sedang dibaca suaminya, meskipun tidak ikut duduk dalam majelis.

Subhanallah, suatu saat ketika waktu si suami taklim tiba, dan si istri sedan lewat, ada sebuah hadits atau keterangan dalam kitab yang mana si suami ini salah baca, secara spontan si istri langsung menyeletuk atau memotong pembicaraan dengan suara keras, “Pak, yang bapak baca itu salah, yang benar seperti ini … (dst)! “.

Allahu Akbar, si istri lama2 hafal juga dengan apa yang pernah dibaca suami. Nah sejak saat itulah akhirnya si suami mulai mengajak istri supaya duduk sama2 untuk mendirikan taklim di rumahnya. Dan dari si istri mengajak anak2nya.

Alhamdulillah, para pembaca sekalian, ketika saya mendengar kisah ini pun saya sangat terharu, betapa usaha agama ini memerlukan perjuangan dan kegigihan. Tak lupa terus berprasangkan baik pada Allah SWT dan berharap agar diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk mengamalkan agama Islam ini dengan sempurna. Amiin.

Tulisan disusun ulang berdasarkan:

http://galih-hermawan.blogspot.com/2008/02/perjuangan-mendirikan-talim-rumah.html

Posted By: Galih Hermawan
Last Edit: 21 Feb 2009 @ 08:20

EmailPermalink
Tags
Tags: ,
Categories: Hikmah dan Kisah, Islam


 

Responses to this post » (One Total)

 
  1. Hendra Yonatha says:

    Hidup ini memang perjuangan. Lebih2 perjuangan demi mendapatkan ridho-Nya jalannya selalu terjal dan berkelok-kelok. Dengan ketersambungan do’a Umat ini, insyaAlloh keistiqomahan itu akan selalu menganyomi kita semua.

Post a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 46
  • Comments » 313
Change Theme...
  • VoidVoid
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater « Default
  • FireFire
  • LightLight

Ijtima’ Indonesia 2009



    No Child Pages.

Keamanan Informasi Lanjut



    No Child Pages.

About



    No Child Pages.