21 Feb 2009 @ 8:14 

Alhamdulillah, itu yang biasa diucapkan oleh orang2 ketika merasa mendapat nikmat yang menyenangkan hatinya.

Rasa syukur akan lebih sempurna ketika dibuktikan dengan amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Jadi bukan hanya di bibir saja.

Sebagaimana seseorang mengaku cinta pada orang lain, maka tidak cukup hanya dengan ucapan “Aku sayang kamu” atau “I Love You” saja, tapi si orang tersebut pingin dibuktikan melalui perbuatan kita.

Sifat orang sholih zaman dahulu yang menonjol bbrp di antaranya adalah sifat syukur dan sabar.
Mudah diucapkan, tapi penerapannya subhanallah agak berat.
Sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah SWT, tak ada satupun kejadian yang lepas dari pandangan Allah SWT. Namun, kadang2 kita secara tidak sadar melalui ucapan2 kita membuat kita jadi mencaci Allah SWT atau menyebabkan iman kita “keluar” dari diri kita.

Misal, sedang asyik2nya kita punya rencana keluar daerah atau ke jalan, ternyata hujan turun, sehingga menyebabkan rencana kita semula gagal total, kadang2 secara tidak sadar kita berucap “Waduh hujan!!!“… dan tambahan kata2 lainnya yang tidak pantas diucapkan.
‘Alim ulama mengatakan bahwa hal inilh yang menyebabkan kita secara tidak sadar telah menyebabkan iman kita keluar, dalam artian bukan keluar menjadi kafir, tapi kita telah mengumpat Allah SWT, meski pada fisiknya kita mencela hujan. Bukankah hujan itu turun atas kehendak Allah SWT?

Atau di suatu siang yang sangat panas terik, terkena musibah yang tidak dinginkan, dan lain sebagainya.

Contoh kasus, baru2 ini di tempatku bekerja ada kenaikan gaji yang Alhamdulillah sesungguhnya itu adalah rizki dari Allah SWT yang sudah ditentukan. Namun sayang, sangat sedikit sekali orang yang minimal mengucapkan Alhamdulillah…. lebih banyak yang menggerutu bahkan merasa tidak puas dengan kenaikan yang tidak sesuai dengan keinginan hati masing2 orang.

Kok naiknya cuma segitu!“, atau “Halah, sama saja, nggak ngaruh!“, atau “Wah pasti nanti ada apa2anya nih!“, dan berbagai macam perkataan yang menunjukkan rasa tidak syukur terhadap nikmat Allah SWT.

Padahal Allah SWT berfirman dalam alqur’an yangkurang lebih artinya “Apabila kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu dan apabila kalian kufur maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih“.

Berapapun nikmat yang diberikan Allah SWT pada kita, baik melalui tempat kerja (gaji), hadiah, atau cara lain, maka alangkah baiknya kita syukuri. Mudah2an kalau kita syukur dan menerima nikmat dari Allah meski hati kita masih merasa sempit, kok cuma sedikit, nanti di padang mahsyar, Allah SWT juga menerima amal kita yang sedikit.

Setiap kejadian yang menurut kita musibah, maka kita belajar sabar, mudah2an dosa2 kita diampuni Allah SWT dan dinaikkan derajat kita di sisi Allah SWT disebabkan kesabaran kita.

Apabila kita terlanjur berucap kata2 umpatan terhadap Allah SWT, maka mari kita banyak2 istighfar pada Allah SWT, dan banyak2 ucapkan syahadat, mudaa2an Allah SWT perbaiki iman dan amal sholih kita. Amiin.

Tulisan disusun ulang berdasarkan:

http://galih-hermawan.blogspot.com/2008/02/belajar-bersyukur-dan-tidak-mencaci.html

Posted By: Galih Hermawan
Last Edit: 21 Feb 2009 @ 08:14

EmailPermalink
Tags
Tags: ,
Categories: Hikmah dan Kisah, Islam


 

Responses to this post » (None)

 
Post a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


 Last 50 Posts
 Back
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 46
  • Comments » 311
Change Theme...
  • VoidVoid
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater « Default
  • FireFire
  • LightLight

Ijtima’ Indonesia 2009



    No Child Pages.

Keamanan Informasi Lanjut



    No Child Pages.

About



    No Child Pages.